Menghidupakn kembali semangat Majalah Abdi Praja..

Nopember 17th, 2008

sekedar flashback…

Posted by abdipraja12 in Tak Berkategori

Jatinangor, jam setengah tujuh pagi, tanggal dua puluh sembilan oktober dua ribu delapan…

disambut hujan yang tak begitu lebat dan dingin udara pagi… aku menginjakkan kembali kakiku ditanah jatinangor, lembah manglayang…

Jatinangor sudah sangat banyak mengalami perubahan… juga ksatriaanku yang sangat kucintai, turut berubah…

Sesaat didepan pintu gerbang, kupejamkan mata… jantungku berdebar…

hari ini aku kembali ke ksatrianku…

Dalam ruang dan waktu yang berbeda, pada dimensi yang lain dan dalam kesempatan serta keadaan yang tak sama…

aku menapak tilasi jejak langkahku… di aspal, ditrotoar, dirumput-rumput, dibawah pohon-pohon…

begitu cepat waktu berlalu… dan aku tidak bisa lagi kembali kemasa lalu… meski begitu kuat aku ingin…

lapangan parade…

balairung…

set bawah…

tangga seribu…

menza…

kelas sumbawa…

barak ntt bawah…

mesjid…

dan dapur redaksi majalah abdi praja

… sadar ada banyak catatan historis yang telah kami tuliskan. mungkin ada berlipat lembaran kertas yang menuliskan kata tentang suka, duka, tawa dan luka. mungkin juga ada bertumpuk bundel kertas bercoret rasa manis, pahit dan asam… (dikutip dari MAP edisi 33 Juni 2003 / Sebuah Sayonara di Penghujung Waktu oleh NP. Syamsuri)

—unfinished

Nopember 13th, 2008

BATU KUDA

Posted by abdipraja12 in Tak Berkategori

(Catatan yang tersisa dari ekspedisi MAP)

Hujan makin deras. Udara yang kian dingin
Antara kesunyian yang kian sempurna
Hanya sebatang sigaret, kini mau
bersahabat denganku

Api unggun.Desau derau daun pohonan
pinus dan irama musik yang menghentak malam
tak memberiku hibur sehingga
dapat aku tersenyum dengan tulus

Dari kesunyian yang kian sempurna
Kegalauan menyayat pedih di hati
Persuaan kali ini kembali menjadikanku
pecundang kesekian kali

(jika jalan pendakian kan dimulai dari
estafeta ekspedisi kali ini, aku memilih untuk berbalik
kesunyian akan kian sempurna menusuk hati ini,
biarlah kubawa pulang perasaan dengan
baju basah kuyup, gigil dingin dan beku)

–minggu pagi 27 april 03–
– untuk kenangan, untuk masa silam yang masih terpatri kokoh dalam hati–
13-10-2008

Oktober 21st, 2008

Sebuah syair lawas, yang lama tersimpan di back up file

Posted by abdipraja12 in Tak Berkategori

Eksklusif from Pimred Birokra 12 :

KARTU POS UNTUK PIMRED Majalah

Ketika puisi hanya memberikan ruang untuk bertanya
Dengan nada sedikit sombong
Dan pertanyaan hanya berisi ketidakpuasan
Tentang mimpi dan kenyataan yang kadang tak persis sama
Apa yang harus dijawab ?
Dengan agak berat, saya hanya berpikir untuk tidak menjawab
Dan sekali lagi juga tidak memilih untuk tidak memahami
Seperti yang anda rasakan
Dan memilih untuk diam sekedar mengheningkan cipta
Tuk menghormati orang yang mempertanyakan kelemahan sendiri
Seorang pahlawan memang, untuk orang yang berhati lemah
Karena tidak ada getaran yang memiliki daya kejut yang mempesona selain ketidakpuasan karena tidak mengerti bagaimana tidak mengerti.

ANDAI SAJA KITA DIBERI KESEMPATAN UNTUK MENIKMATI KEBERSAMAAN SEPERTI DULU. SAYA MEMILIH UNTUK TIDAK MELAKUKANNYA LAGI WALAU BESERTA SEDIKIT SAKIT DIHATI.
DAN DUDUK MEMANDANG, SEPERTI APAKAH KENIKMATAN SAAT INI !
DAN DUDUK MEMANDANG, BAGAIMANA WAKTU MELAKUKAN SAMPAI SEKEJI ITU !
DAN DUDUK MEMANDANG, BAGAIMANA MANUSIA HARUS BERJALAN MUNDUR !

Dengan banyak harapan saya Cuma berpesan
Jika anda punya banyak waktu luangkan separuhnya untuk menghitung denyut jantungmu.
Dan separuhnya lagi memandang wanita tanpa busana penuh gelora. Tapi tolong jangan lupa untuk memulainya dengan setengah tidur.

Jatinangor 2003

September 20th, 2008

curahan hati karena sakit gigi

Posted by abdipraja12 in Tak Berkategori

“ K A S U S    I P D N “
[ sebuah curahan hati karena sakit gigi ]


Goenawan Moehamad pernah menulis berpuluh tahun lalu bahwa terkadang sakit gigi dan pusing dikepala pun dapat mempengaruhi persepsi dari apa yang kita baca pagi ini lalu membentuk sebuah subjektifitas. Sakit gigi mungkin membuat kita gampang marah lalu menilai sesuatu cuma dengan emosi, pusing mungkin membuat kita membaca dengan tidak tuntas lalu memberikan kesimpulan hanya berdasarkan kulit saja. Karena itu Goenawan memang benar menyarankan bila setiap yang membaca berita hendaknya bebas dari sakit gigi dan segala macam persepsi atau stereotipe berdasar apapun sebelumnya. Tentu saja hal ini hampir mustahil karena manusia adalah mahluk yang menerima aksi dan bereaksi terhadap alam sekitarnya. Namun tanpa ingin mengambil kesimpulan, Goenawan dalam tulisan itu “ mungkin” hanya ingin mengatakan dengan sebuah garis bawah tegas bahwa terkadang manusia - yang manusiawi - mengartikan sesuatu tidak berdasarkan apa yang ada [fakta saja] namun juga berdasarkan persepsi yang sudah tertanam dalam benaknya sendiri sesuatu yang oleh Leigh teabing dalam da vinci code disebut skotomata. sebuah kasus berbeda yang pada prinsipnya sama saja.
Kita jelas tidak sedang membahas Da vinci Code atau sang maestro Goenawan, ada soal lain yang coba saya sampaikan setelah pengantar panjang yang nantinya mungkin akan dianggap sekedar upaya membela diri yang sia-sia akibat sakit gigi. Tapi inilah yang memang ingin kami sampaikan akibat sakit gigi yang menimpa kami saat ini.
Hari-hari terakhir ini media massa baik nasional maupun lokal disibukan oleh pemberitaan yang intens mengenai sebuah lembaga pendidikan yang dianggap menerapkan kekerasan dalam pola pendidikannya hingga akhirnya melahirkan korban. IPDN [dulunya STPDN] adalah nama lembaga pendidikan itu dan kebetulan saya adalah alumninya.
Banyak hal yang mencuat kepermukaan, tidak hanya sekedar kekerasan, sejumlah masalah dan predikat lain kemudian ikut muncul dan berlomba memenuhi halaman berita utama tiap lembaga pemberitaan. Tidak cukup itu, lahir juga desas-desus, isu dan gossip yang pada tahap tertentu bahkan melahirkan mitos negative. Jelas kemudian banyak hal menjadi sorotan. Lepas dari persoalan meninggalnya cliff muntu yang jelas-jelas diakibatkan oleh kekerasan seniornya. Masalah lain semisal jumlah korban meninggal akibat kekerasan yang secara bombastis (disampaikan oleh seorang dosen) berjumlah 35 orang walau kemudian akhirnya diklarifikasi kembali menjadi 17 orang, juga soal tuduhan pergaulan bebas dalam kampus dan aborsi, serta perlakuan yang berbeda pada mahasiswa dari golongan the have juga pola senioritas ikut mengemuka. Inilah dasar yang saat ini membenam dalam kerangka berpikir public untuk menilai keberadaan IPDN sebagai lembaga pendidikan dan Praja maupun alumni sebagai mereka yang terlibat dalam proses dan merupakan output.
Dari titik itu kemudian muncul begitu banyak persepsi lalu juga pelesetan dari fonem STPDN / IPDN seperti sekolah tinggi / institut pembunuh, sekolah preman dan semacamnya juga hadir tatapan melecehkan dan bisik-bisik sinis saat berpapasan dengan praja atau alumni. Secara tidak sadar proses ini memang adalah bukti dari telah lahirnya stereotype yang dalam tahap tertentu “ bagi kami “ terasa sangat berlebihan. Sebagai bagian dari komunitas hidup manusia, kami sadar bahwa persepsi, merupakan sesuatu yang sangat manusiawi karena dunia memang bukan tempat dimana cuma satu penafsiran yang berkuasa dan paling tidak polemik akibat perbedaan memang harus ada. Namun apakah pada saat yang sama kami juga tidak pantas bertanya seberapa besar upaya menciptakan polemik dan perbedaan persepsi itu menunjang proses perbaikan dari permasalahan yang kini sedang mengemuka ?
Sebagai alumni ada banyak hal yang ingin kami jelaskan kepada public mengenai apa yang terjadi dan apa yang kami rasakan terhadap pemberitaan yang bias dan cenderung menggeneralisasi, tidak berdasarkan fakta valid melalui chek and recheck, juga timpang karena sama sekali tidak bermuatan coverbothsides.
Pelesetan Sekolah Tinggi Pembunuh yang Dibiayai Negara atau Institut Pembunuh Dalam Negeri misalnya sejak tahun 2003 seperti juga saat ini, diawali dengan pemberitaan yang menempelkan jumlah kematian praja dengan sebab kematian tenggelam, kecelakaan serta sakit (saat itu jumlahnya 9 orang) dalam satu daftar dengan alm.Wahyu Hidayat dan Erie Rahman. Jumlah itu kemudian meningkat menjadi 35 orang berdasarkan refrensi dari seorang dosen yang lacurnya dikurangi oleh beliau sendiri menjadi 17 orang. Yang tidak dicermati adalah bahwa ternyata jumlah 17 orang itupun masih saja memuat nama-nama praja yang meninggal akibat kecelakaan, dan sakit dalam kelompok yang sama dengan kejadian tahun 2003. Dosen tersebut saat ini, sedang diperiksa dengan sejumlah orang untuk secara marathon membuktikan kebenaran pernyataannya melalui proses pembuktian. Pada titik ini bukankah kemudian kami wajar bertanya apakah yang fakta dan manakah yang sekedar kecurigaan ?
Media sebenarnya secara sadar seharusnya memahami kelemahan ini, namun alih-alih mendasarkan pemberitaan pada dasar yang kuat, opini masyarakat justru digiring dengan menempelkan sejumlah fakta dan gosip yang terlanjur digeneralisir secara bias. Judul kemudian dirancang menjadi boombastis dan akhirnya sama sekali tidak korelatif dengan isi. Judul Sekolah Tinggi Pembunuh yang Dibiayai Negara misalnya sama sekali tidak korelatif dengan konsep dan metode pendidikan bahkan fakta yang tersampaikan. Artinya secara sadar media telah melakukan praktek yang oleh Jacob Oetama pernah disebut sebagai jurnalisme pedagang asongan, jurnalisme yang menjual judul, jurnalisme yang tidak sampai menyentuh makna dan hanya berkonotasi jualan, jualan dan jualan saja.
Generalisasi inilah yang menyebabkan lahirnya pandangan stereotype yang pada tahap lanjut menggeneraliasi kekerasan sebagai sesuatu yang tidak hanya berhenti pada oknum-oknum pelaku yang menyebabkan kekerasan terhadap adik-adik kami yang telah menjadi korban saja namun juga terhadap lembaga pendidikan itu sendiri dan bahkan pada anak didiknya tanpa melihat posisi yunior atau senior. Tatapan sinis dan miris kemudian tidak hanya menimpa alumni atau praja senior namun juga praja yunior yang seharusnya adalah korban. Siapakah yang kemudian harus disalahkan disini saat sebuah pemberitaan jutsru tidak menjernihkan masalah namun justru menempatkan korban pada posisi dengan tekanan lebih dari dua kali lipat. Bukankah kita lalu pantas bertanya apakah fungsi sebuah media disini? Apakah untuk menyuarakan fakta, memberitakan kebenaran atau menempatkan gossip sebagai panglima, dan menghukum sebuah lembaga pendidikan dan anak didiknya tanpa pandang bulu dengan pembuktian yang tidak sepadan.
Fakta diatas juga sebenarnya belum seberapa bila dibandingkan fakta yang berhubungan dengan sebuah agenda dari wacana pembubaran IPDN atas asumsi bahwa kekerasan adalah bagian dari system pendidikan di STPDN/ IPDN, dan bahwa senioritas dalam hubungan antar praja adalah racun yang menyebabkan semua persoalan yang saat ini mengemuka. Kita seakan-akan dibuat lupa bahwa bicara tentang sistem pendidikan artinya bicara tentang metode yang pengejewantahannya terdapat jelas dalam kurikulum pendidikan. Dari sana sebenarnya dengan sangat mudah dapat diketahui bahwa kekerasan adalah merupakan pelanggaran dan bukan bagian dari pelajaran yang diberikan dalam lembaga pendidikan kedinasan itu. Banyak yang juga seakan tidak ingin tahu bahwa sejak lama kekerasan adalah wacana yang merupakan bagian dari perlawanan secara internal yang telah dan terus dilakukan setiap tahun dalam lingkungan sosialisasi antar praja senior dan yunior. Seperti juga mengindahkan bahwa bahkan disurga, kehidupan diatur berdasarkan struktur atas dasar penghargaan pada posisi dan nilai diri. Senioritas yang selama ini dianggap racun adalah struktur yang lahir secara alamiah dalam hubungan antar praja yang bukannya sama sekali tidak bermuatan pendidikan (setidaknya latihan memimpin diri sendiri). Ada segi-segi positif dari pola senioritas yang mungkin akan terlalu panjang untuk dijelaskan sekaligus disini.
Pastinya, tanpa ingin melupakan konsep hidup humanis yang idealnya egaliter, kami ingin menyampaikan bahwa dunia ini bukan sorga atau bahwa STPDN/IPDN itu bukanlah Jakarta yang sedang ditimpa banjir/ Aceh yang sedang terkena Tsunami dimana setiap kepalanya meneriakan pemahaman yang sama atas sebuah keadaan. IPDN adalah sebuah Indonesia mini yang inklusif dimana ada 4000 orang anak muda dalam tahap pendewasaan diri hidup bersama dalam kampus yang daya tampungnya sudah overload dengan latar belakang kebudayaan dan psikologis yang berbeda-beda satu sama lain. Sebuah kehidupan tanpa kewenangan lebih yang terdelegasikan pada sebagian yang lain hanya akan melahirkan total anarki dan atau mengulang mimpi utopis marx dan engels yang sudah terdegradasi. Adalah benar bahwa kekerasan (contact body) terjadi, namun yang perlu diingat adalah sejak awal kekerasan adalah bagian dari perilaku deviatif dalam hubungan antar siswa didik (senioritas), yang sama sekali tidak pernah diakomodasi dalam sistem secara kelembagaan dalam IPDN
* * *
Pembenaran terhadap fakta kekerasan dalam semua pola hubungan senior dan yunior kemudian memang didasarkan selain pada korban (alm, wahyu dan cliff) juga pada tayangan kekerasan pembaiatan drumband yang sering diputar ditelevisi. Yang sengaja tidak disampaikan oleh media adalah bahwa kegiatan pembaiatan drumband seperti juga kegiatan kelompok pataka adalah kegiatan ekstrakurikuler yang tidak ada korelasi langsungnya dengan persyaratan kelulusan atau proses pendidikan di IPDN dan secara nyata adalah benar-benar merupakan pelanggaran serius terhadap peraturan. Pada titik ini juga ingin kami tegaskan bahwa sebagaimana organisasi dikampus mana saja, ada pilihan yang sangat bebas pada tiap praja untuk terlibat atau tidak terlibat dengan drumband. Anehnya, upaya pembenaran penggiringan opini kekerasan diatas tetap dilakukan media dengan melupakan dan tidak pernah menyinggung penjelasan bahwa selain drumband masih sangat banyak organisasi kemahasiswaan baik intra dan ekstra Wahana Bina Praja (senat) yang sama sekali tidak mengakomodasi pola senioritas yang salah (bahkan senioritas itu sendiri) dalam kegiatan-kegiatannya sebagaimana telah dijelaskan oleh fungsionaris WBP angkatan XV pada media sebelum dibekukan oleh Presiden. Sebut saja semua kegiatan olahraga baik indoor maupun outdoor, Pers mahasiswa, radio kampus, Pecinta Alam (wapa manggala), Forum-forum kajian, Komunitas teater, komunitas film praja, kelompok studi E Gov, English Conversation Club, komunitas design T Shirt. Tidak juga pernah disinggung bahwa organisasi senat praja adalah sebuah laboratorium pemerintahan mini tempat dimana praja belajar dan terlibat secara praktis dengan praktek mekanisme birokrasi yang ada di pemerintahan daerah dengan segala alat kelengkapannya mulai dari bupati dan walikota dengan kabupaten dan kota serta dinas, biro bahkan kecamatan dan kelurahan. Publik dan media juga seringkali mendasarkan asumsinya hanya pada pernyataan mereka-mereka yang kabur dari kampus tanpa mau mendengarkan kami-kami yang menjalani lebih banyak hari dijatinangor dan dengan sendirinya tentu lebih banyak tahu. Mungkin kami dianggap akan berbohong, tapi apakah analogi yang sama tidak dapat kami sampaikan juga pada mereka yang kabur. Tokh cuma Tuhan, setan, dan kita sendiri yang tahu siapa yang berbohong !
Tapi bukan itu sebenarnya yang menjadi masalah. Persoalan sebenarnya adalah sikap kita semua (media dan public) yang seakan lupa melihat diri sendiri, bahwa, kekerasan adalah bukan hanya persoalan yang terjadi di STPDN / IPDN namun juga dalam masyarakat kita. Masyarakat seakan lupa bahwa sikap main hakim sendiri seperti mengeroyok dan membakar perampok adalah kekerasan, penegak hukum juga lupa bahwa kekerasan kerap juga mereka lakukan, mahasiswa dan kalangan pendidik juga lupa bahwa kampus merekapun kerap kali mengalami praktek kekerasan serius mulai dari tawuran hingga kematian yang juga diakibatkan oleh ospek.. Semua pihak termasuk anggota parlemen juga seakan lupa pada kasus kekerasan yang pernah terjadi dalam tiap lembaga tersebut. Contoh-contoh ini tentu saja tidak ingin kami jadikan pembenaran terhadap kekerasan yang terjadi dalam kampus kami, namun mungkin kami ingin menghimbau pada semua pihak untuk melihat kedalam diri sendiri sebelum menjustifikasi sesuatu terlalu jauh. Karena apabila semua tindak kekerasan yang dilakukan komponen masyarakat lain dianggap sebagai perilaku oknum yang kasuistis dan tidak ada kaitannya dengan integritas kelembagaan kenapa lembaga kami harus mendapat perlakuan tidak adil seperti itu. Juga bila kekerasan dijadikan pembenaran emosional atas wacana bubarkan saja sebuah lembaga pendidikan, apakah kami tidak lantas harus juga menganalogikan pembenaran yang sama untuk membubarkan parlemen, atau bahkan Negara ini.? Tentu saja tidak , bukan ? Karena kita semua tokh, sepakat bahwa kita tidak harus membakar lumbung untuk mengusir beberapa ekor tikus.
Kini kami secara komunal sedang dianggap sebagai tikus, pada lumbung (IPDN) rusak yang isinya tidak potensial dan berharga. Padahal ribuan alumni yang sudah mengabdi didaerah dan ratusan kepala daerah bisa membuktikan bagaimana kinerja alumni tidak bisa dianggap sebelah mata. Ditengah semua cercaan dan sinisme ini kami tetap bekerja dan beraktivitas kreatif walaupun dengan tekanan yang terasa berat. Kami juga sudah membuktikan bahwa tidak ada hubungan yang korelatif tentang tindak kekerasan yang dianggap terjadi dalam semua pola pendidikan dikampus dengan kinerja dari alumni pada masyarakat yang berhubungan dengan pelaksanaan pelayanan umum. Mungkin benar, tidak pantas untuk memuji diri sendiri dan menambahkan sejumlah atribut untuk menegaskan integritas, disini. Tapi bukankah dalam posisi yang dirugikan tetap diam tidak selamanya emas namun justru seringkali kontraproduktif.
Dalam posisi ini, banyak pihak dan media yang kemudian menyatakan bahwa lembaga dan praja serta alumni adalah pihak yang cenderung menutup diri dari proses dialogis dengan media dan komunitas-komunitas sosial di masyarakat. Kami dianggap seakan-akan tidak melakukan upaya klarifikasi terhadap proses pembusukan lembaga yang sedang terjadi. Kenyataannya sebenarnya tidak, hampir semua alumni didaerah maupun dipusat telah melakukan upaya klarifikasi, begitupun lembaga IPDN sendiri dan juga Depdagri sebagai induk. Untuk semua kasus mulai dari pola senioritas dan kekerasan yang dianggap sebagai bagian system , penjara atau kuburan bahkan dugaan pergaulan bebas dalam kampus semuanya telah diklarifikasi. Pertanyaannya adalah apakah apakah media memberitakan klarifikasi kami dalam porsi yang sama dengan bias keburukan yang lebih banyak gosip daripada faktanya dalam pemberitaan uncoverbothsides sebagaimana yang telah dilakukan ?
Khusus untuk stigma pergaulan bebas dalam kampus atau wanita praja yang “ bispak “ (berdasarkan refrensi inu kencana) misalnya, klarifikasi telah sepenuhnya dijelaskan oleh lembaga dan pihak wanita praja sendiri, bahwa dugaan itu adalah dugaan yang sama sekali tidak berdasar. Kasus utari adalah kasus asusila (aborsi) pertama yang diupayakan sebagai yang terakhir dalam penyelenggaraan pendidikan di IPDN. Adalah benar bahwa pernah terjadi pengunduran diri wanita praja karena dugaan kehamilan, namun perlu dicatat bahwa pengunduran itu berkaitan dengan hubungan sang wanita praja dengan pasangannya didaerah pada saat cuti dan bukan dengan praja putra dalam lingkungan kampus. Kasus lain yaitu, hamilnya “ bakal calon wanita praja “ dari maluku utara yang entah bagaimana diluluskan oleh proses seleksi didaerah dan digunakan yth inu kencana sebagai refrensi juga sebenarnya sama sekali tidak berhubungan dengan lembaga IPDN sebagai institusi pendidikan. Pertama karena IPDN tidak bertanggung jawab terhadap proses seleksi didaerah dan yang kedua adalah karena yang bersangkutan bahkan tidak penah menjadi calon praja yang dinyatakan lulus oleh Depdagri.
Wanita praja melalui wakilnya kepada beberapa media telah menjelaskan bahwa bahwa letak kompleks praja putri dan putra terpisah.., bahwa praja putra dilarang keras berada disekitar kompleks putri begitupun sebaliknya. Bahwa sebelum masuk semua praja putri telah dan harus dinyatakan lulus pemeriksaan menyeluruh alat reproduksi kewanitaan, bahwa setiap bulannya dilaksanakan pemeriksaan urine dan alat reproduksi kewanitaan menyeluruh bagi semua putri praja dari tiap angkatan, bahwa putri maupun putra tidak bisa sembarangan keluar kampus bila tak ada ijin atau kalau bukan hari pesiar. Bahwa semua pelaku tindakan asusila yang rata-rata terjadi diluar lingkungan kampus (didaerah asal praja) telah mendapat hukuman dikeluarkan dan atau dipecat sebagai praja.
Tentu saja kita tidak mungkin berkata pelanggaran tidak mungkin terjadi karena tokh kita tidak memasang kamera pada kepala tiap praja baik putra dan putri saat diluar kampus. Dan bukankah kita ingat last but not least praja itu bukan domba yang harus terus diawasi anjing penjaga dan pengembala dalam tiap aktivitasnya. Praja itu mahasiswa, manusia dewasa yang seperti manusia lain juga diberikan pilihan dalam pendidikan yang mendidik manusia dewasa untuk terus mendewasakan diri dengan memilih yang baik dan menghindari yang buruk.. Selain itu apakah sebuah lembaga pendidikan hanya benar-benar akan dianggap berhasil mengartikulasi dirinya seagai lembaga pendidikan tanpa terjadinya pelanggaran apapun bentuknya ? Bila kita sepakat masih hidup di dunia maka tentunya kita juga harus sepakat bahwa yang utopis memang hanya ada di surga. Dan karena itu yang kita lakukan hanya menyiapkan system dan pencegahan terjadinya perbuatan tersebut. Dan itu sudah dilakukan lembaga. Pertanyaannya apakah lembaga pendidikan lain juga sudah melakukan tindakan pencegahan yang sama? Pergaulan bebas hari-hari ini adalah fenomena global pada semua lingkungan pendidikan ditanah air. Upaya sebagian kalangan memercik air ini didulang opini massa sebenarnya lebih merupakan upaya penghindaran dari air masalah yang akan memercik muka sendiri.
* * *
Kami sadar bahwa sebagai media penyampai informasi hari-hari ini pers memang tidak hanya memberitakan namun juga mempengaruhi. Kalimat kerennya adalah membentuk opini publik, suatu peran yang bila ditarik garis awalnya adalah amanat yang juga terbebankan kepada para Nabi, tukang obat dan juga sales asuransi.
Media, pers, jurnalisme juga separuh istilah lain yang ber “ruh” sama sejak awalnya memang mengemban misi idealis layaknya superman dan powerpuff girls atau bahkan obat mencret. Semuanya mengemban misi kemanusian yang mulia, memperjuangkan kebenaran dan membiarkan kebenaran hidup lalu melepaskan penderitaan. Cuma saja ternyata, seperti obat mencret jurnalismepun punya kemasan yang pada sampingnya selalu tertera peringatan akan adanya efek samping. Artinya, kita memang memerlukannya, harus menengaknya namun bukan harus tanpa hati-hati. T.S Eliot dalam novelnya bahkan mengingatkan “ pers memang terkadang menampilkan dirinya sebagai cermin yang dengan sedikit modifikasi dapat dimanipulasi. Karena memang tidak ada realitas yang seluruhnya dapat disampaikan dalam kolom dan dengan begitu kebohongan tentu saja dapat mengisi kekosongan.
Kesalahan para oknum itu (kekerasan; red) biarlah menjadi dosa yang kami akui dan benar-benar kami sesali. Kami hanya berharap ditengah semua tuntutan nilai ideal yang pantas dialamatkan kepada kami, semua pihak (termasuk media) dan masyarakat juga mau bersikap ideal, pantas dan professional. karena bila tidak sebagaimana kata seorang “teman“ Ajaran yang ideal tanpa contoh yang sepadan hanyalah pantas dibuang ke selokan “

M Burhanudin Borut
Purna Praja STPDN angkatan XII

September 20th, 2008

Pegawai Kelurahan [ Apa coba ? ]

Posted by abdipraja12 in Tak Berkategori

Pegawai Kelurahan [ Apa coba ? ]

Kalo ada yang nanya sama kamu Pegawai apa yang paling sering ada dalam sinetron-sinetron Indonesia horror, drama maupun dendam-dendaman dan intrik-intrikan ga jelas, jawabannya pasti pegawai kelurahan.

Kenapa pegawai kelurahan ? saya juga ga tau tepatnya kenapa. Yang jelas itu menandakan kalo pegawai kelurahan memang paling TOP Bgt se Indonesia. Bayangin aja dari sekian juta PNS [ katanya > 8 juta ] yang ada di Indonesia, Cuma pegawai kelurahanlah yang paling sering ada dalam scenario-skenario sinetron. Itu artinya secara praktis para sutradara memang telah bisa menilai dan menghormati kepiawaian para pegawai kelurahan dalam soal acting mengakting. [ ini walaupun pada akhirnya yang jadi pegawai kelurahan di sinetron bukan pegawai kelurahan beneran ; hopefully someday it will be ] dan juga artinya para pegawai kelurahan punya keunggulan komparatif untuk lebih sukses dalam dunia sinetron, pengartisan, pokoknya dunia hiburanlah dibandingkan PNS-2 yang lain. Lho kok bisa pembenarannya jadi kayak gitu ?
Tentu saja bisa, buktinya liat aja dekat-dekat [dekat bgt bahkan].

Aniwei itu Cuma prolog kok, bahkan sekedar pingin main-main aja sih.

The truth is, gue cerita kayak gini itu cuman karena ngeh aja, kenapa sering banget pegawai kelurahan itu jadi korban pengdiskreditan dan stereotip birokrasi yang jelek dalam produk-produk media massa yang dikonsumsi sama public, ya misalnya sinetron itu tadi bandingannya mungkin cuma Polisi Lalu lintas saja kali….
Gue ngerti kalo produk hiburan public itu biasanya cerminan dari kondisi yang ada dimasyarakat dan bahwa banyak kejelakan yang dimiliki pegawai kelurahan gue juga ga membantah, tapi kok jadinya cuma pegawai kelurahan yang distereotipkan sebagai icon PNS yang malas, ga ada kerjaan dan ga becus menangani persoalan-persoalan dimasyarakat bahkan yang paling parah moral pegawai kelurahan juga diidentikan dengan moral penilep uang masyarakat dalam sinetron-sinetron kita. Padahal kan kalo mau ditelisik lebih jauh dikit, PNS yang lain dalam badan-badan birokrasi yang lebih besar kan justru punya prestasi memalukan yang lebih gede lagi dari pada pegawai kelurahan. Kita bisa bilanglah bahwa prestasi jelek dan ga jelek itu kan hampir berbanding lurus sebenarnya dengan besarnya sebuah lembaga.

Examplenya mudah banget. Antara Winnie the pooh sama Duffy duck kan pasti winnie the pooh makannya lebih banyak [ hubungannya apa sebenarnya ? gw jg bingung. Artiin aja ya ndiri  ]

Nah dari contoh yang segiitu aja sebenarnya gw udah bisa protes habis-habisan sama penulis-penulis skenario itu. Walaupun pegawai kelurahan memang contoh yang paling dekat dan paling sering berhubungan sama para penulis skenario dan sutradara-sutradara yang minta ijin syuting dikampung, kan tetap aja mustinya para sutradara dan penulis skenario itu bisa melakukan OBSERVASI yang lebih melebar dan mendalam [ istilah MLM] serta lebih akurat lagi untuk memberi contoh PNS-2 yang ga bener. Jangan cuman akhirnya pegawai kelurahan yang dikorbankan dari sekian juta PNS indonesia yang ga bener. Jangan dong…….

Sutradara sama penulis-penulis skenario itu mestinya tahu kalo jadi pegawai kelurahan itu sebenarnya peran watak yang susah banget ngjalaninnya. Apalagi kalo kita udah terbiasa ngelakuin sesuatu hal, dinamis dan ga mau statis. Mereka juga msutinya sadar bahwa jadi pegawai kelurahan itu tekanannya berat banget. Jadi PNS aja tekanannya udah berat dan sering disterotipin macam-macam. Apalagi jadi pegawai kelurahan. Maka itu gue Cuma pingin menghimbau… tolong ya jangan nambah-nambah beban psikologis orang yang jadi pegawai kelurahan.

Karena itu gw jadi pingin menghimbau orang-orang kalo ga semua pegawai kelurahan itu sebenarnya jelek, buktinya gw adalah pegawai kelurahan yang baik hati, rajin menabung, suka menolong dan temenan sama dian sastro [in my day dream aja kali ], terus orang-orang juga mesti ngerti kalo akibat pembagian beban kerja yang ga merata dalam birokrasilah yang bikin pegawai negri [ bukan hanya pegawai kelurahan lho ] itu banyak santainya, lalu jadi malas dan akhirnya ga efektif kerjaannya. Penilaian hasil kerja, kualitas kerja dan prestasinya juga ga jelas makanya bikin orang-orang itu jadi ele-elean [ istilah tentara sama kayak dikampus dulu ]. Karena itu perubahan kondisi itu mustinya justri dimulai dari atas, dengan segala kebijakan yang memberdayakan PNS dan utamanya kelurahan.
Makanya kalo pingin ikut merubah suasana birokrasi di Indonesia, kontribusinya sebaiknya juga yang positif dong, jangan justru nambah-nambahin beban para pegawai kelurahan dong dengan segala pengsterotipan yang ga adil itu.
Gw bisa bilang kalo kayak gini maka yang terjadi itu sebenarnya adalah proses destrukturisasi massal masyarakat dan peradaban. Itu kelakuan anarkis, bahkan agak nihilis sebenarnya. Coba aja bayangin kalo hasil ini semua adalah orang-orang ga mau lagi jadi aparat kelurahan. Bukannya nanti proses pelayanan di masyarakat tambah berabe lagi dan yang rugi juga nantinya para sutradara dan penulis skenario karena mereka juga jadi ga punya icon buat dijadiin contoh pegawai negeri..

Hallllllaaaaahhhhhhhhhh lu boleh aja bilang kalo ini proses pembelaan diri dan memang iya, ini proses pembelaan diri. Kalo bukan kita yang membela diri kita sendiri siapa lagi coba. And least but not least gw juga pingin bilang kalo berkarya itu bisa dimana aja dan bahkan dari lumpurpun lahir teratai yang indah.

Entah bingung, entah apa setelah lihat sinetron di TV
M burhanudin september 2 tahun kemarin

Agustus 27th, 2008

Selamat Pagi Dunia….

Posted by abdipraja12 in Tak Berkategori

 Kandangan,  27 Agustus 2008

Selamat Pagi Dunia…

Pada Detik ini semua kembali bermula… Setelah sekian ribu lamanya semangat ini menghilang dan pudar ditelan waktu… Setelah lembah manglayang ditinggalkan… Setelah kita semua tercerai berai ke seluruh ranah nusantara… Setelah masa-masa acakadut dan kabut yang menyelimuti kini berlalu…

Semangat untuk menghidupkan spirit, jiwa, elan Majalah Abdi Praja bergelora, bergemuruh didalam sanubari ini… Dan di detik inilah semangat itu diwujudkan, dijewantahkan dalam bentuk blog…

Blog Abdi Praja, tempat semangat Majalah Abdi Praja itu ditumbuhkan, dihidupkan dan diabadikan sepanjang masa…

Blog Abdi Praja, tempat nuansa dan kebersamaan disemai kembali… tempat masa silam dikenang dengan indah tempat, tempat esprit de corp dirajut…

Blog Abdi Praja, tempat terbuka untuk semua sahabat, kawan, adik, kaka dan sejawat yang satu visi, misi, semangat Majalah Abdi Praja… Tempat untuk kita semua untuk saling menyapa, berkomunikasi dan bercurhat tentang dunia yang kita hadapi saat ini…

Pada Detik ini, semangat Majalah Abdi Praja kembali dihidupkan…

Salam dengan sepenuh cinta untuk semua…

Syamsuri, SSTP

Mantan Pimred MAP 12

Agustus 27th, 2008

Halo dunia!

Posted by abdipraja12 in Tak Berkategori

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta

    • Subscribe to RSS feed
    • The latest comments to all posts in RSS
    • Subscribe to Atom feed
    • Powered by WordPress; state-of-the-art semantic personal publishing platform.
    • Firefox - Rediscover the web